Mungkin
banyak Orang bertanya apa benar sekarang penyakit kanker lebih
banyak dibandingkan dengan zaman dulu? Apakah Benar sekarang semakin gampang
sekali orang terserang kanker? Dapatkah sekarang
ini kanker kita cegah? Marilah kita membahas Semua seluk beluk tentang kanker di bawah ini.
1. Membedakan kanker dengan tumor.
Kita
mungkin saja tahu walaupun sedikit
tentang kedua hal ini. Tumor dan kanker memang benar adalah pertumbuhan abnormal dari sel tubuh. Yang
perlu kita tahu adalah perbedaannya. Bedanya Cuma sedikit saja, pertumbuhan tumor
lebih jinak dibanding kanker. Dalam penelitian para pakar dibidang ini
menyimpulkan bahwa bertambah banyaknya sel tumor terbatas saja, oleh karena itu
tidak mengganggu sel-sel di sekitarnya. makanya tumor itu disebut pertumbuhan jinak.
Sebaliknya
kanker itu disebut tumor ganas. Mengapa disebut ganas? Karena pertumbuhan selnya abnormal dalam
sifat dan jumlahnya, sehingga kanker mengganggu dan merusak sel-sel jaringan di
sekitarnya. Dalam analisa lebih jauh pada stadium lanjut, sel-sel kanker
kemudian menyebar ke mana-mana di bagian organ tubuh, dalam bahasa medis kita menyebutnya
metastasis. Kalau tumor tentunya tidak
demikian.
Setiap
manusia memiliki organ tubuh yang sama.
Tetapi setiap organ tubuh memiliki sel yang berbeda-beda. Dan setiap
jenis sel tubuh dapat berubah sifat tabiatnya menjadi sel kanker. Ia tidak
patuh lagi pada perintah. Sel normal yang membelah-belah diri mengikuti aturan
dan program. Jika berubah sifat menjadi sel kanker, mendadak sel menyimpang
dari aturan. Selain berubah tabiat, sel berbiak puluhan sampai ratusan kali
lipat sel normal.
Oleh
karenanya, setiap jenis sel tubuh bisa berubah sifat menjadi sel kanker, maka
jenis kanker pun sebanyak ragam sel tubuh, sesuai organ yang mengalaminya. Ada
belasan jenis kanker yang kita kenal. Setiap jenis kanker pada suatu organ
memiliki jenis-jenisnya sendiri-sendiri lagi. Kanker darah misalnya, bukan
hanya satu jenis saja.
Yang
menjadi pertanyaan mengapa sel tubuh yang semula normal berubah sifat menjadi
abnormal? Itulah yang menjawab apa saja sebagai penyebab kanker. Inilah
maksudnya, dengan mengetahui penyebab kanker, kita masih mungkin untuk
mencegahnya.
2. Mengapa seseorang terkena
serangan kanker?
Penyebab
kanker itu banyak faktornya, untuk itu kita tidak mudah melacak penyebab setiap
kasus kanker. Kita perlu tahu faktor-faktor risiko itu mulai dari gen, diet,
virus, polusi lingkungan, sistem kekebalan tubuh, sampai usia lanjut.
Ambil
saja contohnyaRokok, memang benar salah
satu faktor risiko (behaviour risk) bisa terserang kanker paru-paru. Kenyataannya
tidak setiap perokok tentu bakal terserang kanker paru-paru. Ada faktor lain
yang mendukung apakah kanker paru-paru pada seseorang akan muncul atau tidak.
Jadi dengan demikian, ini bukan menjadi berarti untuk mencegah kanker paru-paru
rokok tidak perlu dijauhi.
Banyak
pula orang yang secara genetic dari awalnya berbakat kanker yang diwarisi dari
orang tua, tapi itu kan belum tentu kankernya muncul jika faktor pencetusnya
(presipitasi) tidak bekerja pada dirinya. Faktor pencetus di sini kita kenal dalam
bahasa kerennya sebagai faktor carrinogenic.
Faktor
gen sebagai faktor risiko kanker tak mungkin kita elakkan. Begitu pula dengan
bertambahnya umur. Namun, dalam upaya pencegahan kanker, kita masih mungkin
meningkatkan kekebalan tubuh, menghindar dari pelbagai carcinogen yang
mengancam dalam diet, serangan virus tertentu, polusi udara, kegemukan, dan
tembakau sendiri.
3. Apa bisa kanker
dicegah?
Sekarang
ini dalam analisa kesehatan semakin banyak gen kanker ditemukan. Contohnya
adalah Gen kanker payudara (BRCA). Kita tadi sudah bahas bahwa orang dengan gen
kanker berarti sudah menyimpan bakat bakal terkena kanker tertentu, jadi
selanjutnya tinggal menunggu apa faktor pendukungnya, yaitu bahan carcinogen
juga bekerja pada tubuhnya. Jika ada, berarti cuma soal waktu saja, kanker akan
muncul.
Masalahnya
oleh karena kita tidak tahu, kita tidak sadar kalau tubuh kita membawa faktor
gen kanker itu. Kita hanya tahu bahwa gen kanker juga diwariskan. Jika orang
tua pernah kanker, kita hanya menduga kemungkinan warisan gen kanker ada pada
badan kita. Dan itu baru menduga oleh karena tidak semua anak dari orang tua
yang kanker tentu mewarisinya. Ada yang mewarisi, ada pula yang tidak.
Bagi
yang memiliki orang tua kanker, perlu lebih waspada terhadap semua jenis bahan
carcinogen, dari mana pun asalnya. Faktor carcinogen yang paling kuat banyak
berasal dari makanan (diet). Erat korelasi diet dengan munculnya kanker.
4. Hubungan Diet dan
kanker
Coba
kita perhatikanMenu harian kita, ada
yang baik, yaitu kelompok menu yang justru melindungi tubuh kita dari ancaman
kanker, menu jenis ini yang harus ditingkatkan dalam menu harian, seperti buah,
sayur, ikan, serat, minyak ikan laut, vitamin A, C, E, dan D. Sedangkan jenis
menu berlemak tinggi, daging-dagingan, dan alkohol justru memperbesar risiko
kita terserang kanker.
Kalau diamati, baik yang menunya kecukupan dan berlimpah, maupun
yang menunya sederhana sekarang sama-sama memikul risiko terancam kanker. Menu
kaya lemak, kaya daging, dan yang serba lezat, sehingga
menjadikan tubuh yang gemuk-gemuk, menyimpan risiko kanker.
Begitu
juga yang menunya ikan asin, saus tomat murah, berbumbu penyedap berlebihan,
atau rumah dengan atap asbes. Diyakini bahwa tubuh yang gemuk menyimpan risiko
terkena kanker payudara, prostat, dan usus besar, lebih tinggi dibanding yang
tidak gemuk.
Ikan
asin, menu harian rakyat kecil mengandung zat nitrosamine, salah satu zat
carcinogenic, sebagaimana juga zat pewarna dalam saus tomat, jajanan dan
penganan murah, bumbu penyedap asam glutamat (micin) yang dikonsumsi berlebih
untuk waktu lama, demikian pula dengan bahan pengawet, pemanis buatan, serta
bahan additive lain.
Jenis
makanan, penganan, dan bumbu yang murah yang dikonsumsi rakyat kecil justru
mengandung bahan carcinogen. Belum carcinogenic lain dalam polusi udara,
gelombang elektromagnetik semua peralatan elektronik di rumah maupun kantor,
medan listrik bertegangan tinggi, dan radiasi monitor komputer, antena telepon
genggam. Terpapar lama oleh faktor-faktor maya tersebut menambah beban tubuh
memikul cemaran carcinogenic di lingkungan hidup kesehariannya.
Buat
rakyat kecil racun aflatoxin dalam kacang busuk, tembakau, umbi, kecambah,
berisiko mencetuskan kanker hati. Orang kecukupan yang cuma makan daging kurang
serat, cenderung kanker usus. Nitrat tinggi dalam air minum yang dikonsumsi
orang papa menambah risiko kena kanker kandung kemih, termasuk cemaran pupuk,
pestisida, herbisida di kalangan petani, dan penduduk desa.
Orang
kecukupan memilih ikan asap, daging asap, daging bakar barbeque, juga memikul
risiko kanker lebih besar akibat cemaran zat polycyclichydrocarbon yang berasal
dari proses pengasapan. Risiko kanker orang papa semakin bertambah akibat
sering mengonsumsi minyak goreng jelantah dari jajanan gorengan, dari warung
nasi, dan nasi bungkus murah, atau dari tahu murah yang diberi pengawet formalin,
zat warna tekstil, pemanis sacharine, atau makanan yang serba asin. Menu asin
bukan cuma bikin darah tinggi naik, melainkan pencetus kanker juga, termasuk
acar. Kanker usus penduduk Jepang yang doyan acar, lebih tinggi dibanding
penduduk yang tidak sering makan acar.
Peranan
menu harian dalam mencegah kanker amatlah besar. Sekitar 35 persen kanker di
Amerika dapat dicegah dengan menata ulang menu harian. Angka kanker menurun
jika diet lebih memilih jenis makanan yang aman, menjauhi jenis menu yang
jahat, dan memperbanyak menu yang menyehatkan (gerakan back to nature, salah
satunya).
4. Bagaimana dengan Perilaku
seks dan kanker.
Memang
sudah diteliti beberapa virus terbukti menjadi pencetus kanker juga. Wanita
yang sering berganti-ganti pasangan seks cenderung kena kanker leher rahim.
Dengan berganti-ganti pasangan, risiko tertular virus lebih besar dibanding
yang hanya dengan pasangan tunggal. Virus Epstein-Barr, virus papilloma, untuk
menyebut virus yang ditularkan lewat hubungan seks.
Selain
itu serangan virus-virus jenis lain, termasuk virus AIDS, cenderung memperlemah
tubuh. Daya tahan tubuh menurun mempermudah masuknya virus lain, yang akan
semakin melemahkan sistem kekebalan tubuh.
5. Kanker dan sistem
kekebalan tubuh yang menurun.
Kekebalan
tubuh menurun merupakan salah satu faktor risiko terserang kanker juga. Dengan
bertambahnya usia, kekebalan tubuh cenderung akan terus menurun. Jenis kanker
yang banyak menyerang usia lanjut, diterangkan oleh semakin melemahnya
kekebalan tubuh.
Kekebalan
tubuh pada umumnya menurun jika hidup kurang tertib. Jika irama hidup tidak
teratur, pola makan kacau dan gizi tak memadai, dalam bekerja tak punya pola
jeda, waktu tidur tak tentu, dan badan tidak cukup bergerak, kesemuanya itu
cenderung melemahkan kondisi tubuh.
Jika
kondisi tubuh melemah, virus mudah menyerang. Serangan virus sendiri menambah
lemah ketahanan tubuh. Pada kondisi demikian, virus-virus sebagai pembawa
risiko kanker ikut menyerang.
Sistem
kekebalan juga berkorelasi dengan kondisi jiwa. Pikiran positif, jiwa yang
kuat, dan iman yang teguh meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penyembuhan
dalam doa, misalnya, bekerja dengan cara meningkatkan sistem imun tubuh.
Sel-sel kekebalan (lymphocytes, sel-B dan sel-T) tubuh maupun cairan kekebalan
(immuno-globulin) meningkat jika kita berpikiran positif, optimistis, dan malah
jadi menurun jika kita pesimistis, kehilangan pegangan, tak yakin Tuhan
menolong.
Faktor
stres ikut menurunkan sistem kekebalan tubuh juga. Maka, stres perlu
dikendurkan jika takut terserang kanker. Perlu hidup lebih enjoy, lebih
menerima, dan bisa mensyukuri hidup kendati hanya sebagai orang biasa.
7. Hubungan antara cahaya
matahari dan kanker.
Buat
kita di Indonesia cahaya matahari barang murah yang pada satu sisi menyehatkan
sebab membantu pembentukan vitamin D, memperkuat tulang, namun di sisi lain
merupakan faktor pencetus kanker kulit. Maka, tidak sehat kebiasaan berjemur
untuk tujuan menambah kelam warna kulit seperti kebiasaan orang bule, jika
dilakukan setelah sinar ultramerah mulai meninggi.
Yang
kita butuhkan dari matahari sinar ultravioletnya, yang bisa kita manfaatkan
sebelum pukul 10-an pagi. Lewat jam itu, berisiko mencetuskan kanker kulit,
kanker yang banyak menyerang kulit wajah.
8. Kanker dan hormon.
Sudah lama diduga hormon seks memegang peranan penting dalam
kemunculan kanker kandungan pada wanita. Jenis tumor rahim tertentu berkaitan
erat dengan hadirnya hormon estrogenik. Setelah menopause , ketika hormon sudah surut, tumor akan mereda
sendirinya. Bukti bahwa hormon ikut andil dalam tumbuhnya sel abnormal organ
reproduksi.
Dalam
hal sulih hormon (Hormon Replacement Therapy) masih tetap kontroversi. Selain
ada yang menentang, ada pula yang menganjurkan karena dinilai masih aman.
Namun, secara akal sehat, jika sel organ reproduksi kerjanya dipengaruhi oleh
hormon seks, pemberian hormon dari luar tubuh (yang belum tentu pas takarannya
dengan kebutuhan sel), bisa saja berpengaruh buruk, yaitu merangsang sel yang
dipengaruhinya untuk berubah tabiat. Ada pihak yang menganjurkan seberapa bisa,
sulih hormon pun dipertimbangkan tidak jika masih ada pilihan lain.
Pemberian
hormon testosteron pada pria, misalnya tidak diperbolehkan jika ada gangguan
prostat. Maka, pemakaian hormon lelaki sebagai obat kuat pun hendaknya
diwaspadai betul. Dan sekarang hormon laki-laki juga dimanfaatkan untuk tujuan
peremajaan sel (rejuvenalisasi), dan banyak suplemen yang diam-diam memasukkan
hormon untuk tujuan dan khasiat yang tidak selalu jelas, dan tidak aman secara
medis.
9. Bisakah semua kanker
dapat disembuhkan?
Umumnya
semua kanker masih bisa disembuhkan asal diobati selagi masih dini. Namun,
sering kali kanker baru diketahui, atau baru disadari setelah memasuki stadium
lanjut, pada waktu gejalanya sudah nyata muncul. Itu sebab, perlu senantiasa
check up teratur, terutama bagi yang menyimpan faktor risiko mewarisi keturunan
kanker, mereka yang sudah berusia lanjut, dan sering terpapar faktor carcinogic
untuk waktu lama, seperti perokok, terpapar radiasi (bekerja di kamar rontgen,
petugas di lingkungan nuklir), dan siapa saja yang menu lemaknya berlimpah, dan
kegemukan.
Untuk
kanker payudara dan leher rahim dapat memonitor dengan melakukan pemeriksaan
rutin berkala setahun sekali. Semakin dini awal suatu kanker diketahui, semakin
besar harapan untuk sembuh. Jika kanker sudah lanjut, selain tidak bisa
disembuhkan, sel kanker sudah menyebar ke mana-mana organ tubuh lain,
memperberat penderitaan, dan komplikasi.
10. Ekstra vitamin dan
antioksidan.
Kita
tahu radikal bebas (free radicals) salah satu faktor yang mendukung terjadinya
kanker. Radikal bebas ada di mana-mana dalam hidup keseharian kita, termasuk
dalam menu, polusi udara, air minum, sehingga tidak mudah kita berkelit dari
semua itu.
Yang
bisa kita lakukan meningkatkan faktor peredam radikal bebas atau zat
antioksidan (antioxidant). Kita tahu vitamin A (carotene), vitamin C, dan
vitamin E, bersifat antioksidan juga. Semua itu ada dalam makanan yang berasal
dari alam.
Jika kita bisa mengandalkan kecukupan antioksidan dari alam, tak
perlu ekstra tambahan vitamin yang bersifat antioksidan itu. Wortel, buah dan sayuran segar, biji anggur, jeruk, dan semua jenis
umbi-umbian, biji-bijian, kacang-kacangan, serta jenis lalapan mentah, kaya
akan vitamin, mineral, chlorophil, dan antioksidan.
Jika
menu kaya antioksidan kita ragu bisa terpenuhi dari menu harian, kita
menambahkannya dari esktra vitamin, dan sumber antioksidan lainnya, yang banyak
dijual sebagai suplemen, asal jelas formula, dan disahkan pemakaiannya oleh
badan pengawasan obat internasional, setidaknya diakui lokal oleh Departemen
Kesehatan.
Source : dari berbagai
sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar